Cara Menjadikan Anak Mau Belajar di Rumah


Waduh .. anak-anak saya sangat susah sekali kalau disuruh belajar di rumah …sampai bosan saya menyuruh mereka ! ”

Itulah kalimat-kalimat yang mungkin sering kita dengar, terlontar dari beberapa orang tua akan  betapa susahnya mereka ( para orangtua ) dalam upaya menyuruh anak-anaknya terutama yang masih seusia Sekolah Dasar ( SD ) untuk belajar  di rumah.

Secara umum, adalah wajar jika orangtua menginginkan anak-anaknya mau belajar di rumah setelah hampir setengah hari atau bahkan lebih anak-anak mereka belajar di sekolah bersama dengan guru dan teman-teman mereka. Karena bagi kebanykan orangtua belajar di sekolah saja belumlah cukup bagi perkembangan kemampuan berpikir anak-anak.
Sulitnya anak-anak untuk mau belajar di rumah, sudah seharusnya menjadi pemikiran para orangtua, bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya sendiri sebagai orang tua. ( saya adalah seorang ayah dari 3 orang anak yang kebetulan semuanya laki-laki ), saya mencoba menerapkan beberapa hal berikut ini.

Pertama, menetapkan jam belajar.
Langkah awal ini menjadi penting, sebab setiap kegiatan yang terjadwal dengan baik bisa menjadi pendorong bagi kita untuk melakukan aktivitas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Untuk urusan penetapan jam belajar ini, orangtua bisa menentukannya secara sepihak ataupun mengkompromikannya dengan anak-anak. Dan kalau jam belajar itu sudah ditetapkan ( misalnya : pukul 19.00 s/d 21.00 ) maka perlu ada semacam sosialisasi kepada seluruh ”warga” yang ada di dalam rumah .

Kedua, menciptakan suasana belajar di rumah.
Jika diperhatikan anak-anak akan cenderung terhanyut dengan suasana isi rumah. Ketika pada jam-jam tertentu kita menginginkan anak-anak untuk belajar sementara di dalam rumah ”berlangsung” suasana hiruk pikuk. Televisi menyala, ada suara siaran radio , ada sanak saudara yang sedang bertandang ke rumah,jangan berharap mereka ( anak-anak ) mau belajar. Oleh sebab itu, kita sebagai orangtua harus bisa menciptakan suasana belajar di dalam rumah. Caranya ?, ketika masuk waktu jam belajar matikan televisi, radio, bernegosiasi dengan saudara agar pada jam-jam tersebut tidak bertandang ke rumah kecuali ada hal-hal yang sangat penting sekali.  ( kecuali malam Minggu. atau malam liburan ).

Ketiga, memberikan teladan.
Tabiat anak-anak adalah akan cenderung mengikuti contoh yang diberikan oleh orang dewasa yang ada di sekitarnya. Atas dasar inilah, maka orangtua harus dan perlu  memberikan contoh kepada anak-anaknya agar mereka mau juga belajar.
Bagaimana caranya ? Caranya adalah, pada jam-jam belajar yang telah kita tetapkan sebagai jam belajar anak,  orang tuan memberikan contoh dengan membaca buku-buku, menulis dan lain sebagainya. Bukannya malah menonton televisi, atau lainnya.

Keempat, menemani / mendampingi.
Tidak ada salahnya, kita sebagai orangtua duduk bersama dengan anak-anak ikut menemani, mendampingi atau bahkan membantu kesulitan anak dalam belajar sebatas yang kita mampu. Bentuk pendampingan seperti ini akan membuat anak merasa senang dalam melakukan aktivitasnya. Tidak ada salahnya kita ”berpura-pura” menjadi temannya, atau menjadi gurunya, bahkan menjadi ”murid” bagi anak-anak kita.

Kelima, mengundang teman.
Orangtua bisa saja menawarkan kepada anak untuk mengundang teman mereka datang ke rumah dalam rangka belajar kelompok. Dengan catatan orang tua harus tetap memberikan pengawasan terhadap aktivitas mereka, sebab tidak jarang ajang belajar kelompok berubah menjadi ajang bermain kelompok.
Untuk menyegarkan suasana, ada baiknya secara bergantian anak kita yang bertandang ke rumah temannya untuk belajar kelompok. Dan untuk yang satu ini, kita perlu berkomunikasi dengan orangtua dari teman-teman anak kita.

Keenam, memberi penghargaan dan hukuman
Kecenderungan anak adalah merasa senang jika apa yang mereka lakukan mendapatkan penghargaan meskipun sebatas kata-kata pujian. Apalagi penghargaannya dalam bentuk materi, semisal : tambahan uang jajan atau lainnya. Dan sebaliknya, anak akan merasa takut dengan hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan. Namun demikian, hukuman yang kita berikan ketika anak tidak mau belajar hendaknya bersifat mendidik, semisal membuat tulisan kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara sebanyak sekian kali.

Semua upaya yang kita tempuh untuk menjadikan anak mau belajar di rumah akan banyak ditentukan oleh konsistensi kita sebagai orangtua. Jika kita benar-benar konsisten dengan segala upaya yang kita tempuh, InsyaAllah akan kita dapatkan hasilnya.
Kalimat hikmah menyatakan : barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya.

postingan ini juga bisa Anda temukan di : www.anekaartikel.com

» Read More...

Mendidik Anak dengan Hati

Mendidik anak berarti merubah anak menjadi lebih baik ( shalih ). Perubahan pada anak akan terjadi manakala sebagai pendidik ( guru / orangtua ) dapat mempengaruhi perasaan ( hati ) dan pikiran ( akal ) anak. Untuk itu, seorang pendidik harus mempunyai perasaan ( hati ) dan pikiran ( akal ) yang lebih kuat ketimbang perasaan ( hati ) dan pikiran ( akal ) anak yang dididik.
Kekuatan perasaan seorang pendidik ada pada kebersihan hatinya
( kecerdasan spiritual ), dan kekuatan pikiran nya ada pada kecerdasan akalnya ( kecerdasan intelektual ).
Hati yang bersih adalah hati yang sangat sensitive merasakan perbedaan antara yang baik dan buruk, benar dan salah, manfaat dan mudarat. Dengan modal ini seorang pendidik akan mampu melakukan paling tidak 3 hal berikut :
1.Menjadikan anak didik sebagai sahabat
2.Menjadi sosok uswah hasanah / teladan / contoh kebaikan
3.Sabar dalam menghadapi anak didik

Menjadikan anak didik sebagai sahabat, memungkinkan pendidik dapat melakukan :
1.Dengan berbagai cara selalu menggembirakan dan menyenangkan hati anak didik, sehingga anak akan selalu merindukan kehadirannya, dan sekaligus membutuhkannya dan mempercayainya.
2.Akrab bercengkerama dan bercengkerama dengan akrab, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, berani menghadapi kenyataan, kemauan yang kuat juga kepercayaan social dan ilmiah yang kuat.
3.Menyayangi anak didik dengan kasih sayang yang tiada bertepi, sehingga hati sang anak menjadi hidup. Hidupnya hati seseorang akan memungkinkan dirinya mudah tersentuh dan disentuh nasihat. Sehingga akan mampu memahami dan membedakan warna-warni kehidupan yang bermanfaat dan yang menjadi racun baginya.

Pendidik berhati bersih ( cerdas spiritual ) tercermin pada sikap dan perilakunya yang bersih dan cerdas, dalam artian baik dan bermanfaat. Sehingga dia akan selalu melakukan segala sesuatu yang terbaik di hadapan anak didiknya, bahkan ketika tidak di hadapan anak didiknya.
Apalagi bila sang anak merasakan betul manfaat dari seluruh tindakan sang pendidik.

Kesabaran seorang pendidik akan sanggup mendorong dirinya, untuk melakukan :
1.Berlapang dada dalam menghadapi polah tingkah anak
2.Berpikir positif terhadap persoalan-persoalan yang timbul di tengah-tengah dia mendidik sang anak
3.Mampu melakukan aksi-aksi positip dalam mengatasi seluruh persoalan anak didik
4.Membantu kebaikan anak dengan do’a yang ia munajahkan dengan sepenuh hati kepada Sang Perubah hati ( ﺍﷲ ).

Keberhasilan mendidik anak dengan hati yang bersih akan semakin terasa hasilnya ketika sang pendidik juga membekali dirinya dengan akal yang cerdas, yaitu akal yang kaya ilmu dan wawasan.

KECERDASAN EMOSI ( EQ )

Didefinisikan sebagai kepandaian dan kemampuan mengatur suasana hati yang di dalamnya terdapat kemampuan memahami diri, empati, ketekunan dan ketangkasan social.
Dasarnya :
“’ dan orang-orang yang mampu menahan amarahnya, dan mau memaafkan kesalahan orang lain sekalipun dia mampu membalasnya. Dan Alloh mencintai orang yang berbuat baik “ ( QS. Ali Imran : 134 )

“ Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka jika di antara mud an dia ada permusuhan ( jadikanlah ) seolah-olah dia teman setia “ ( QS.Fushshilat : 34 )

» Read More...